Aku menangis.
Aku terbaring meronta-ronta di lantai
Mengerang tak henti-henti
Persetan dengan keluargaku
Persetan dengan tetanggaku yang terusik dengan tangisanku
Biar saja aku berteriak terus sepanjang hari
Biar saja aku menyesakkan telinga mereka semua, telinga kalian semua
Biarkan aku meronta di lantai
Menyaringkan tangisan yang sudah tidak bisa lagi kutahan
Persetan dengan mereka yang terganggu akan eranganku
Aku tidak punya tangan, kanan maupun kiri
Aku kesal dengan mereka yang tidak mensyukuri kedua tangannya
Aku kesal.
Saturday, November 16, 2013
B(er)untung
Gurun Pasir (3)
Dia tidak bisa apa-apa lagi. Karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Kalau sudah mendapat kutukan seperti itu, mau bagaimana lagi?
Aku yakin sekarang ia sudah terjatuh tertelungkup di atas pasir, membuat cetakan dirinya di permukaan dunia bagian timur sana. Membuat rahasia dunia yang baru. Bahwa hidup tidak semudah mengangkat kaki dan meletakkannya di depan kaki yang lain. Bahkan mengangkat kaki saja pun sudah sangat sulit bagi beberapa orang. Termasuk juga ia yang sekarang kakinya seberat 100 ton pasir yang menempel di kakinya. Ia sudah jatuh. Aku yakin ia sudah jatuh. Sedih aku mengatakannya. Miris pengakuan ini. Tapi aku yakin.
Dan, tidak akan ada yang membangunkannya. Aku yakin itu. Ia sendiri di sana. Di tengah gurun pasir yang luas itu, ia sendiri. Aku yakin. Ia sendiri. Bahkan tidak ada apa-apa di sana. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya. Tidak ada. Ia sudah mengutuk dirinya sendiri dengan nekad pergi menyusuri jalan yang tidak ada bedanya dengan sebuah bola. Yang mana yang depan, yang mana yang belakang, yang mana kiri, yang mana kanan? Kalaupun ada yang mengetahuinya, ia tidak akan peduli. Ia tidak akan rela mengorbankan dirinya pergi ke tengah ratusan ton pasir hanya untuk membantu seorang gila. Lagipula, memangnya bisa ia menemukannya?
Gila. Begitu aku menyebutnya. Karena ia memang begitu di mataku. Ia sendiri. Tidak tahu arah. Tidak ada yang menunggunya di tempat yang ia tuju. Bahkan yang ia cari pun belum tentu ada.
Dasar gila.
Beruntung (2)
Beruntunglah engkau
Bisa membaca
Bisa mengucap
Bisa mendengar
Membaca apa yang kuucap
Dalam rangkaian huruf yang membentuk kata
Di wadah yang luas ini, wadah seluas dunia. . .
Berterima kasih-lah kepada gurumu
Mengucap apa yang kau baca
Sehingga kau bisa untuk sekian kalinya merasa
Menyadarkan dirimu bahwa kau punya hati. . .
Berbaktilah kepada orang tuamu
Mendengar apa yang kau ucap sendiri
Sampai kau tahu seberapa nyaring suaramu
Seberapa penting keberadaanmu. . .
Bersujudlah kepada Tuhan
Beruntunglah engkau.
Beruntung (1)
Beruntunglah aku
Tidak buta
Tidak bisu
Tidak tuli
Aku bisa mengisi jiwaku dengan indahnya dunia
Dengan jejak kakiku yang menyusuri jalan
Dengan langit di setiap masanya, lukisan Tuhan sepanjang masa
Dengan melihat wajah kedua orang tuaku
Aku bisa menetaskan emas dengan lidahku
Membuat yang mendengarku tersipu malu
Membuat mereka terpatah lidahnya menjadi kaku
Atau membuat mereka mengerti akan duniaku
Aku pun bisa mengalami yang dialami oleh entah siapa
Dari kisah-kisah mengharukan yang kudengar
Dari teriakan dan tangisan para penuntut masa
Dari manis(-pahit)nya cerita penduduk dunia
Beruntunglah aku.
Beruntung
Beruntunglah...
Beruntunglah orang yang buta
Yang bisu
Yang tuli
Mereka tidak perlu berlaku sepertiku
Melihat hal-hal yang merusak jiwa
Yang membuatku menggila
Hanya karena satu-dua hal yang melekat di mata
Mereka bisa menjadi emas dalam diam
Tidak memaki kawan walaupun mau
Tidak mengutuk pengkhianat yang di lidah masyarakat menjadi kutu
Tidak mencipta kata tabu baru
Mereka tidak perlu mendengar ngerinya hidup duniawi
Tidak perlu mendengar jika sudah waktunya saudaranya dieksekusi
Tidak ikut "membicarakan" buruk kata buruk rasa orang lain
Tidak perlu peduli apabila dimaki
Beruntunglah mereka.
Thursday, November 14, 2013
Gurun Pasir (2)
Kuharap kau tidak merasa sendiri. Kuharap kau tahu usahamu tidak akan sia-sia. Setiap langkah kakimu membawamu ke tempat yang baru. Bertemu wajah baru. Mengenal nama baru. Menghirup udara baru. Setiap tarikan nafasmu menghidupi semakin banyak tanaman (karena mereka menyenangi karbon dioksida), yang berarti kau pun dapat menyokong bentuk kehidupan lain selain dirimu. Setiap kedipan matamu memperjelas jalan yang harus kau tempuh. Setiap butir pasir yang mengisi sela jari kakimu mengingatkanmu akan jauhnya jarak yang telah kau tempuh, akan sangat disayangkan-nya apabila kau berhenti, akan derasnya aliran air mataku mengetahui (apabila) kau menyerah.
Kuharap kau tahu. Yang kau cari ada tepat di depan matamu. Kau hanya perlu mengejarnya. Meraihnya.
Kuyakin kau tahu. Ada yang menunggumu di oasis sana.
Ya, kau tahu.
Setidaknya aku tahu itu.
Bahwa kau tidak sendiri.
Thursday, October 10, 2013
Dunia 5 Waktu
Monday, October 7, 2013
Gurun Pasir (1)
Aku tahu aku sendiri. Aku tahu bahkan tak ada apa-apa di sini, selain pasir dan pasir. Entah ini perasaanku saja entah memang benar-benar terjadi, tapi rasanya ada matahari tepat di kerongkonganku--panas sekali.
Sepertinya sudah berkali-kali aku ditentang oleh kakiku. Kukatakan padanya, tidak mungkin bisa ia temukan oasis yang dicari-cari orang itu. Tidak mungkin ia bisa menemukannya. Aku yakin betul soal itu, seyakin aku menghitung berapa puluh kali aku sudah mengelap keringat yang menjahili leherku. Tidak mungkin bisa, tapi tetap saja kakiku ini melangkah. Langkah yang sangat berat padahal. Mungkin aku mulai mengerti mengapa gravitasi dalam fisika "disamakan" menjadi 10 meter per (detik pangkat dua).
Pegal rasanya tengkukku harus terus menghadap ke lantai--pasir. (Menyengat pula terik matahari ini). Lebih pegal dari jari-jari kakiku yang terus kugerakkan untuk menyingkirkan butiran pasir yang menyusup masuk. Sulit rasanya kubedakan mana kulit mana pasir.
Langkah demi langkah aku teruskan. Segaris horizon yang berbatasan dengan bumi satu warna--warna pasir--masih meliuk-liuk tanpa jeda, tanpa terputus.
Aku tahu aku sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini.
Tuesday, September 24, 2013
Gurun Pasir
Lego House
Sunday, August 25, 2013
Thursday, August 22, 2013
Wednesday, August 21, 2013
Tuesday, August 20, 2013
Monday, August 19, 2013
Sunday, August 18, 2013
Keran Air
Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-18
"Ada keran di dalam kamar? Oh berarti di kamarnya ada kamar mandi."
Saturday, August 17, 2013
Friday, August 16, 2013
Selimut
Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-16
Thursday, August 15, 2013
Wednesday, August 14, 2013
Maket Pioneering
Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-14
SALAM PRAMUKA! : D
Agustus hari ke-14! 14 Agustus! Ini hari besar bagi kami, Pramuka Indonesia! Atau bagi kita, kalau kamu (pernah) tergabung dalam Pramuka! : D
Dedikasi (kecil-kecilan)ku kepada Pramuka hari ini adalah, membuat postingan khusus untuk #CeritaDariKamar yang diadakan oleh @benzbara_ tapi yang berkaitan dengan Pramuka.
Tuesday, August 13, 2013
Komik
Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-13
Monday, August 12, 2013
Sunday, August 11, 2013
Lampu
Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-11
Kipas Angin
Sebuah #CeritaDariKamar Hari ke-10
Saturday, August 10, 2013
Friday, August 9, 2013
Langit Granada
Sebuah Cerpen Memoar
Oleh Angel Permata Jauhari @anmaurin
2001
"Ade liat apa?"
"Kak Hilal, itu apa?"
"Itu awan, de. Nana kenapa sih suka liatin langit?"
"Bagus banget."
"Itulah salah satu bukti kebesaran--"
"Allah.."
Thursday, August 8, 2013
Monday, August 5, 2013
Memikirkan Kehidupan (Orang Lain)
Wednesday, July 31, 2013
(Tidak) Merasa Sendiri
Sebuah Cerpen #FF2in1
"..."
Thursday, July 11, 2013
Sebuah Senyuman
Sebuah Cerpen #ngabubuwrite
Kencring.. kencring...
Wednesday, July 10, 2013
Kelelahan yang Dibuat Menunggu
Sebuah Cerpen #ngabubuwrite
Wednesday, July 3, 2013
Telaga
Sebuah Cerpen #FF2in1
"Ini bukan sekedar telaga, Boi."
Melihat Punggung
Sebuah Cerpen #FF2in1
Friday, June 28, 2013
Menumpang (Simbiosis Komensalisme)

Tuesday, June 18, 2013
Sekolah Dambaan
![]() |
| *klik untuk info lebih lengkap |













