Sunday, August 11, 2013

Lampu

Sebuah #CeritaDariKamar hari ke-11





Setiap pulang sekolah, itu berarti antara ba'da ashar sampai hampir masuk waktu maghrib karena aku biasa tidak langsung pulang, selesai beres-beres, tidur adalah satu-satunya yang akan kuniatkan, sebanyak apapun tugas yang harus kuselesaikan untuk KBM (kegiatan belajar mengajar) keesokannya.
Seiring waktu berjalan, tak terasa kini aku sudah semakin tua *eh* naik kelas. Rupanya, kata "belajar" perlu lebih ditekankan dalam otakku. Aku perlu belajar lebih! Hal ini sebenarnya sudah sejak lama ingin ku tekadkan. Belajar lebih giat. Tapi, selain rasa malas dan kesibukkanku di dunia ekstra sekolah sana, ada yang menghambat lancarnya jurus saktiku yang juga dimiliki setiap pelajar. Di kamarku, sangat remang lampunya. Seolah, kacamata hitam selalu kupakai dalam ruangan. Seolah Thomas Alva Edison telah berhasil tanpa ada yang meneruskan pekerjaannya. Seolah, cahaya matahari hanya satu-satunya sumber cahaya yang bisa kugenggam, hingga saat malam mengetuk pintu, (hanya) hitam lah yang kusambut.

Pernah kupaksakan untuk belajar di kamar,
Bisa! Lanjut!
Tapi pikiranku itu salah. Baru beberapa waktu, belum lah hitungan menit dua digit menyentuh kepala 3, kepalaku sudah berdenyut-denyut. Mataku pun latah, seolah ia berputar-putar mengerjaiku, bekerja sama dengan kembarannya. Pusing. Akhirnya? Aku pun segera tertidur.

Sejak hari itu, aku selalu berpesan kepada ayah untuk menggantikan lampu di kamar. Tak pernah ditanggapnya, atau setidaknya seperti itulah pikiran burukku. Ia selalu sibuk, di malam setiap pulang kerja, tidak lama ia duduk di depan TV karena segera terlelap. Kelelahan, sepertinya.

Kenapa tidak pasang sendiri? Karena itu cukup tinggi. Dengan naik ke atas kursiku pun aku belum sampai.

Akhirnya, suatu hari saat aku meminta (lagi) kepada ayah untuk memasangkan lampu di kamar, kakakku mendengar pembicaraan kami dan menawarkan diri serta langsung memasangkan lampunya. Kebetulan beberapa hari sebelumnya kami mendapat hadiah dari teman ibu, atau lebih tepatnya souvenir pernikahan, yang berupa 2 buah bohlam lampu yang menyala lebih terang dari lampu biasanya. Terrific.

Kini aku bisa membaca buku, belajar, menulis, atau apa saja tanpa menyiksa mataku, di bawah lampu kamar yang terang-sangat terang. Allah menyiapkanku hadiah pemberian seorang kerabat keluarga, seorang kakak yang lebih tinggi dariku, dan juga yang cepat tanggap terhadap suatu masalah ("solutif", katanya) untuk dapat memasangkan bohlam lampu.

See?
Memasangkan bohlam lampu saja ada prosesnya, Kawan.







No comments:

Post a Comment

Search!