Thursday, August 8, 2013

Gorden

Sebuah #CeritaDariKamar Hari ke-8




"Udah cek jendela atas?"

Selalu saja begitu. Padahal sedang buru-buru, sedang siap-siap untuk pergi, atau sedang ada yang kukerjakan, yang bahkan terkadang mereka yang menyuruhku mengerjakannya, pernah aku dipanggil untuk turun ke bawah, tapi setelah sampai kutapakkan kaki kanan di anak tangga paling bawah (ya, harus kaki kanan. Entahlah, semacam ritual pribadiku. Pointless, padahal), mereka, atau salah satunya, bisa ibuku bisa juga ayahku, malah melontarkan pertanyaan itu. Sore hari biasanya, atau saat semua akan keluar rumah. Atau di pagi hari saat matahari masih kusukai sinar hangatnya. Alhasil, mau tidak mau, aku naik lagi ke kamarku untuk menemui jendela di atas. Dimulai dengan langkah kaki kananku, tentunya.

Aku tahu mereka akan bertanya seperti itu, aku tahu ini sudah jadi adat di rumah kami, tapi terus saja aku lupa untuk berinisiatif. Bahkan tidak jarang aku diam sejenak dan memandangi jendela yang terbuka lebar itu, malas sekali rasanya untuk berjalan lima langkah dan menutupnya. Kakiku pun malah lebih setuju untuk turun tangga merah melingkar itu dulu, baru naik ke atas (lagi) dan menutup jendela itu. Ritual yang diikuti menutup jendela kamarku ini adalah menyalakan lampu, yang mana lampunya terang-sangat terang.

Rela (atau tidak rela?) bolak-balik naik-turun masuk-keluar kamar hanya untuk membuka jendela di pagi hari dan menutupnya di sore hari, aku tak pernah bosan melihat dunia di luar jendela ini disatukan atau dipisahkan dengan kamarku hanya oleh gorden yang ibu pasang. Entah banyaknya warna entah biasan cahaya yang menembus gorden itu yang membuatku terpana. Mungkin ini berlebihan, tapi ini sungguhan. Mungkin terlihat biasa saja, dan sebenarnya memang tidak ada yang spesial dari gorden itu, tapi... aku suka.

Mungkin, karena cerita ini, aku akan tidak lupa lagi untuk langsung membuka atau menutup jendela kamarku. Mungkin. Ah, ini hanya sebuah kemungkinan.

No comments:

Post a Comment

Search!