Sebuah #CeritaDariKamar Hari ke-9
"Cas-an di mana ya?"
Kira-kira seperti itu pertanyaan lain yang sudah menjadi suatu adat di rumahku, selain yang kuceritakan lewat kisah Gorden.
Menjadi adat, kata-kata ini baru belakangan ini kusadari melekat dalam hidupku. Mungkin "ritual" adalah kata yang lebih tepat. Atau lebih umumnya, kebiasaan. Ya, kebiasaan buruk. Selalu saja ada paling tidak satu dari kami berempat yang menyimpannya di sembarang tempat.
Mungkin akan ada yang bertanya,
"nya"?
"menyimpannya"?
"Benda apa yang disimpan di sembarang tempat?"
Jawabannya, bisa apa saja.
Lupa adalah penyakit yang sangat sulit dihilangkan, terlebih bagi kami. Melekat lebih kuat dari getah pada pohonnya, lebih kuat dari lumut di pepohonan, dari akar pohon yang tertancap dalam ke bawah kulit bumi. Atau mungkin kami hanya malas untuk mengingat. Padahal, berdasarkan suatu buku ilmiah hasil penelitian dari peneliti asal Amerika (atau Inggris. Entah, aku lupa), tidak ada yang namanya "lupa". Memori tersimpan dan terus tersimpan dalam otak kita, seperti file yang kita simpan di dalam komputer. Kita hanya perlu tahu ke mana kita harus mencari untuk dapat membukanya kembali, disimpan di folder mana.
Padahal kami sudah (dan masih) berusaha untuk berubah. Agar kami tidak lagi lupa di mana menyimpan barang apa, dan agar rumah kami tetap rapi. Tetap saja ada barang yang terlupa di mana disimpannya. Akibat dari kebiasaan kami ini, kami telah kehilangan lebih dari 3 set handphone battery charger! Alhasil, kami harus mengandalkan (hanya) satu buah charger untuk 4 hape kami masing-masing. Inilah makanya pertanyaan tadi sering keluar di rumah kami,
"Casan di mana ya?"
Untunglah, kebetulan kami punya lebih dari 3 Data Cable, yang dapat menghubungkan hape kami ke charger, laptop, bahkan ke televisi. Sehingga, walaupun sepertinya kurang baik bagi kesehatan hape kami (atau baterainya), kami bisa mengisi ulang baterai hape kami tidak hanya dengan mengandalkan satu buah casan. Kini kami pun mengenal yang sedang tren dan disebut Powerbank, sehingga di jalan pun kami bisa mengecas hape kami apabila keadaan mengharuskan.
Dan, sekarang, mungkin sejak sekitar sebulan-duabulan yang lalu, stopkontak di rumahku hampir selalu penuh. Bahkan di kamar juga. Untuk casan hape, casan laptop, casan powerbank, dan ditambah kipas angin. Niatanku dan kakakku untuk membelikan kami semua satu buah charger masih sebatas niat, terhalang oleh kantong yang tak berisi.
Mungkin... ada yang mau menyumbang? Haha
No comments:
Post a Comment