Thursday, August 22, 2013

Dinda

"Inget ya, suatu saat nanti kamu harus belajar agama Islam."



Lagi-lagi aku pulang sore. Kegiatanku di sekolah cukup banyak memang, dan aku pikir aku tidak rugi. Di jalan pulang, terpikir olehku untuk membeli makanan ringan di Indomaret tidak jauh dari rumah.

Saat aku memasuki tempat parkir, yg menjadi sorotan mataku setelah tempat parkir adalah seorang gadis kecil, aku taksir umurnya sekitar 7 tahun, ia duduk di depan pintu masuk memegangi cup kosong bekas pop mie.


YaAllah... Kasihan...


Ingin rasanya aku memberinya sesuatu, tapi ragu membuatku merogoh-rogoh kantong, kalau-kalau ada uang lebih.

Lalu aku masuk. Di dalam ada seorang anak perempuan yang seumuran dengannya sedang berdiri tepat di depan pintu, di depan gadis kecil itu. Pakaiannya lebih rapi, warnanya lebih cerah, lebih bersih, dan ia sedang memegang makanan yang hendak dibelinya. Sesaat ia memperhatikan gadis kecil yang duduk di luar pintu itu.

Aku langsung berjalan ke bagian makanan ringan. Biasanya di sini agak sepi pelanggan, tapi kini aku harus mengantre sebelum membayar. Sebelum masuk antrean, aku melihat gadis di luar itu lagi. Aku berhenti berjalan.


"Inget ya, suatu saat kamu harus belajar agama Islam!", kalimat ini terus terngiang di kepalaku. Aku harus menyampaikan hal ini kepadanya.


Aku pun berbalik.
Roti-roti di mana ya?
Kupikir, daripada uang yang kuberikan digunakan untuk hal lain, kubelikan saja ia roti.
Yang besar atau yang kecil ya?
Aku mengambil yang besar dan segera ke tempat antrean. Tapi kemudian aku berbalik lagi.
Yang kecil aja deh.

"Kalo mau amal jangan mikir. Bisa jadi gajadi nanti. Atau jadi ngurang.", kira-kira begitu yang selalu kuingat dari kata-kata ibuku, sepertinya ia mengambilnya dari kata-kata Ustad Yusuf Mansyur. Aku pun kembali mengambil yang besar.

Kubayar di kasir apa-apa yang kubeli. Lalu aku segera keluar.
Gadis kecil itu menyodorkan cup kosongnya.
"Hei", panggilku sambil senyum.
"Siapa namanya?"

"Dinda", jawabnya setengah menunduk

"Tinggalnya di mana?"

"Buaran", oh di dekat sini.

"Ayah ada?"

Ia mengangguk.

"Ibu juga ada?"

"Ada."

"Oh, trus kamu disuruh ke sini?"

"Iya. Soalnya... buat makan."

"Oh, yaudah. Nih buat kamu.", kuberikan roti yg kubeli tadi.

"Terimakasih", ucapnya senang.

"Iya", akupun senang. Langsung aku berbalik.

Nah, hampir saja aku lupa. Aku langsung berbalik lagi.
"Ohiya", Dinda siap memperhatikan.
"Suatu saat nanti kamu harus belajar agama Islam yaa"

"Aku sekolah di masjid"

Terkejut lagi gembira, aku lanjut bertanya, "Di masjid mana?"

"Al-Huda"

"Oh, dekat sini dong?"

"Iya."

"Yaudah, belajar yang rajin yaa."

Aku pun kembali ke sepeda motorku.


Alhamdulillaah...




**
Tapi... kenapa?
Kenapa harus ada dia? Kenapa Dinda harus ada? Kenapa harus ada ANAK-ANAK seperti Dinda? Kenapa harus ada orang tua yang nekad melepas anaknya untuk mencari makan seorang diri? Sejak umur 7 tahun?

No comments:

Post a Comment

Search!