Sebuah Cerpen #FF2in1
Tidak salah lagi. Dia pasti mau melamarku!
Sejak tiga minggu yang lalu, Hilman selalu mengirimkanku rangkaian bunga. Dan dia membawakanku bunga yang berbeda-beda setiap kali bertemu. Dia menjadi lebih puitis di telepon. Tapi itu membuatku senang. Sangat senang.
Lucu, fufu...
Minggu lalu pun dia mengajakku makan malam di rumahnya, aku ingin sekali. Sayang ayah tidak mengizinkan. Dia sempat memaksa dan bilang ingin meminta izin sendiri kepada ayah, tapi tidak. Rasanya tidak mungkin. Tapi tak pernah rasanya ia marah ataupun cemberut atas apa yang terjadi.
Hebat...
Sikapnya itu membuatku sedikit tenang.
Besok malam Hilman ingin mampir ke rumah dan makan malam bersama di rumahku. Tapi... Sebelum semua terlambat, malam ini aku akan mengatakannya. Aku akan bertemu dengannya di kafe dekat rumah.
---
"Mas Hilman..."
"Ya..?"
"Maaf ya bela-belain dateng..."
"Hehee, gapapa kok. Demi........."
"Hush. Jangan dilanjutkan, Mas. Sebenernya... aku mau minta maaf."
No comments:
Post a Comment