Wednesday, July 3, 2013

Melihat Punggung

Sebuah Cerpen #FF2in1


"Ayah... kapan?"

Aku hanya bisa diam. Sudah berulang kali ia bertanya, sudah berulang kali aku bersenyum mengajaknya terhibur, mengajaknya bersuka ria, sudah  berulang kali kuangkat dan kuterbangkan ia bak pesawat terbang--yang ia malah mengira bahwa aku membantunya menirukan terbang gagahnya Sang Manusia Baja, Superman--air mata masih terus mengembun di wajahnya.

Air mata bukan lah satu-satunya yang kurindukan darinya. Ketiaknya yang hangat, yang selalu membuatnya tertawa ketika kuangkat tubuhnya, masih kurasakan di tanganku.

"Ayah... ayoo cepaaat!"

Ah... akhir-akhir ini khayalan selalu membuaiku. Hahaha, ada-ada saja aku ini. Mimpi-mimpi yang terlalu  tinggi.

"Ayah!"

Ataukah kualitas diriku yang terlalu rendah? Rasanya ingin aku mengulang hari itu.

Kuusap air mataku. Walau, aku yakin mataku sekering sumur tua, sumur yang sudah berabad-abad tak dipakai lagi. Tak pernah lagi aku menangisinya, menangisi kerinduan itu, menangisi kelembutan yang kudapat dari…

“Ayah, Ayah! Lihat deh, bunga ini warnanya merah sekali!”

Aku ingat. Aku yakin. Aku… mungkinkah?
Sudah bertahun-tahun sejak aku melihat bunga semerah ini. Sejak…

“Ayah! Ayo pulaaang!”

Pulang? Rasanya kata itu sungguh berat di telingaku kini. Mungkin karena aku sudah dimakan usia. Tapi mengapa aku harus membiarkan usia memberatkanku dengan hanya mendengar satu kata? Satu kata enam huruf yang…

“Ayah! Pulaaang!”

Seingatku, ia mulai menangis saat itu. Mengerang memohon dibawa ke tempat yang ia mau. Atau setidaknya, yang sudah jadi kehendak-Nya.

“Tapi… Ayah… Kapan aku bisa….”

Sulit rasanya kalau aku ingin menjawab pertanyaan itu. Seakan aku telah mengunci rapat-rapat jawabannya di sebuah kotak besi yang aku lupa di mana aku menyimpan kuncinya. Mungkin kutitipkan ke orang lain? Tapi siapa?

“Kalau itu… Raisa… Menurut ayah…”

Terdiam lagi. Rasanya tak kuat aku hanya berdiri melihatmu menangis seperti itu, bingung aku ingin berkata apa dengan lidahku yang kaku. Semakin disesatkan aku dengan rengekanmu hanya demi sebuah jawaban.

YaAllah, mudahkanlah hamba-Mu ini dalam menjawab pertanyaan anak hamba…

“Ayah… Sekarang aku tau!”

Iya, anakku. Mungkin sekarang kamu tahu di mana engkau bisa bertemu dengan ibumu, ibumu yang telah melahirkanmu dengan susah payah, yang rela memberikan hangatnya bumi yang seharusnya ada juga di tangannya, yang rela membiarkan hanya engkau yang merasakannya, tidak bersama dengannya.


Mungkin, sekarang kalian sedang tersenyum bahagia, mendapatkan jawaban-jawaban yang hanya ada di surga Allah SWT.

No comments:

Post a Comment

Search!