Sebuah Cerpen #FF2in1
"Ayah... kapan?"
Aku hanya bisa diam. Sudah berulang kali
ia bertanya, sudah berulang kali aku bersenyum mengajaknya terhibur,
mengajaknya bersuka ria, sudah berulang kali kuangkat dan kuterbangkan ia
bak pesawat terbang--yang ia malah mengira bahwa aku membantunya menirukan
terbang gagahnya Sang Manusia Baja, Superman--air
mata masih terus mengembun di wajahnya.
Air mata bukan lah satu-satunya yang
kurindukan darinya. Ketiaknya yang hangat, yang selalu membuatnya tertawa
ketika kuangkat tubuhnya, masih kurasakan di tanganku.
"Ayah... ayoo cepaaat!"
Ah... akhir-akhir ini khayalan selalu
membuaiku. Hahaha, ada-ada saja aku ini. Mimpi-mimpi yang terlalu tinggi.
"Ayah!"
Ataukah kualitas diriku yang terlalu
rendah? Rasanya ingin aku mengulang hari itu.
Kuusap air mataku. Walau, aku yakin mataku sekering sumur tua,
sumur yang sudah berabad-abad tak dipakai lagi. Tak pernah lagi aku
menangisinya, menangisi kerinduan itu, menangisi kelembutan yang kudapat dari…
“Ayah, Ayah! Lihat deh, bunga ini warnanya
merah sekali!”
Aku ingat. Aku yakin. Aku… mungkinkah?
Sudah bertahun-tahun sejak aku melihat bunga semerah ini. Sejak…
“Ayah! Ayo pulaaang!”
Pulang? Rasanya kata itu sungguh berat di telingaku kini. Mungkin
karena aku sudah dimakan usia. Tapi mengapa aku harus membiarkan usia memberatkanku
dengan hanya mendengar satu kata? Satu kata enam huruf yang…
“Ayah! Pulaaang!”
Seingatku, ia mulai menangis saat itu. Mengerang memohon dibawa ke
tempat yang ia mau. Atau setidaknya, yang sudah jadi kehendak-Nya.
“Tapi… Ayah… Kapan aku bisa….”
Sulit rasanya kalau aku ingin menjawab pertanyaan itu. Seakan aku
telah mengunci rapat-rapat jawabannya di sebuah kotak besi yang aku lupa di
mana aku menyimpan kuncinya. Mungkin kutitipkan ke orang lain? Tapi siapa?
“Kalau
itu… Raisa… Menurut ayah…”
Terdiam lagi. Rasanya tak kuat aku hanya berdiri melihatmu
menangis seperti itu, bingung aku ingin berkata apa dengan lidahku yang kaku.
Semakin disesatkan aku dengan rengekanmu hanya demi sebuah jawaban.
YaAllah, mudahkanlah hamba-Mu ini dalam menjawab pertanyaan anak
hamba…
“Ayah… Sekarang aku tau!”
Iya, anakku. Mungkin sekarang kamu tahu di mana engkau bisa
bertemu dengan ibumu, ibumu yang telah melahirkanmu dengan susah payah, yang
rela memberikan hangatnya bumi yang seharusnya ada juga di tangannya, yang rela
membiarkan hanya engkau yang merasakannya, tidak bersama dengannya.
Mungkin, sekarang kalian sedang tersenyum bahagia, mendapatkan
jawaban-jawaban yang hanya ada di surga Allah SWT.
No comments:
Post a Comment