Sebuah Cerpen #ngabubuwrite
Kencring.. kencring...
Seharian panas-panasan sampai larut malam kedinginan, hanya kumpulan uang receh yang kudapat. Bagaimana aku mau makan enak kalau begini terus?
"Dek, kamu tidur duluan aja kalau mau."
"Nanti Bang, aku mau bareng Abang."
Setia sekali adikku ini, atau mungkin ia masih takut kalau tidur sendirian? Ah, mana mungkin. Kemarin kan dia malah muter-muter ngikutin angkot semalaman, pulangnya sendiri kok walau dia sempat bilang gak berani. Betah sekali dia mengikutiku.
Sudah malam. Masih banyak sih peluang kantongku untuk penuh malam ini, tapi kasian adikku, tidur saja lah. Besok pagi aku berangkat lagi.
"Dek, kayaknya hasil ngamen tadi udah banyak, nih! Pulang yuk!", kutunjukkan kantong uang receh yang kupenuhi dengan daun, mengelabuinya.
"Waaah, Abang hebat ya. Baru sehari udah penuh banget. Aku mau bisa kayak Abang ah!"
Tersenyum. Aku yakin itu pertama kalinya Afif tersenyum dengan sangat tulus, sangat gembira, sejak ibu dan ayah...
"Haduh, ngapain sekarang mikirin yang udah lewat, haha. Harus siap lagi buat besok!"
Tikar sebagai alas tidur untuk adikku sudah kusiapkan. Aku pun berbaring di samping tikar itu sambil mengajaknya tidur, seperti biasanya. Namun sungguh, senyumannya sangat menghidupkan semangatku. Aku lupa ia sering merantau bersamaku. Rupanya ia ada untuk menyemangatiku, mengindahkan gitar dan parauku.
...
Keesokan paginya
...
"Nah! Kayaknya angkot yang ini lumayan!", kuatku dalam hati.
Kunaiki angkot itu dengan penuh semangat. Gitar kecilku tak pernah tertinggal. Kumulailah kicauku yang kumerdu-merdukan. Kugenjreng gitarku dengan asyik. Kulihat penumpang seisi angkot menebar senyum.
:)
Memotivasi cerpenmu, Kawan :D
ReplyDelete