Sebuah Cerpen #FF2in1
"Ini bukan sekedar telaga, Boi."
"Di telaga ini, kalau kau bisa menyelam dan menyentuh sampai
dasarnya..."
“Akan jadi apa lagi
aku, Cai?”
Mulai bosan rasanya aku. Mulai bosan karena kehidupan terlalu
penuh dengan petualangan yang, tidak lain tidak bukan, hanya dari ulahnya ‘menyihir’ku
mau mengikuti langkah kakinya.
“Kau mau tahu, Boi?”
Aku mengangguk. Dari segala macam reaksi, dari seribu pilihan
jawaban yang ada, kenapa aku mengangguk? Bodoh, pikirku. Nyawa lah ini
taruhannya.
“Ikut aku, Boi. Kali ini kita akan
mengagumi ciptaan Tuhan yang tak akan kau ragukan lagi kekuatannya. Kali ini,
akan kubuat kau bersujud di hadapan-Nya.”
Kali ini, aku tersenyum, bukan, aku menangis, bukan, aku…
entah apa ini yang kurasakan. Kuikuti saja lah ke mana ia membawaku hari ini.
Akulah si Telaga
Sapardi Djoko Damono
Akulah si telaga:
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana,
tinggalkan begitu saja perahumu
Biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas
Kumpulan Sajak
1982
No comments:
Post a Comment