Sebuah Cerpen #ngabubuwrite
Betapa kejadian itu selalu memotivasiku. Terngiang terus di kepalaku.
Saat itu aku masih kelas 8 tingkat SMP. Aku sedang dalam perjalanan pulang selepas latihan Pramuka di sekolahku.
...
Rasanya lelaaaah sekali. Seakan aku akan jatuh begitu saja di tengah jalan.
"Duh keringetan. Mana tadi di angkot panas banget, lagi. Sumpek, penuh banget.",
keluhku dalam hati.
Mungkin kalau ada orang yang melihatku berjalan turun dari angkot itu, ia akan heran. betapa kusutnya mukaku, betapa mengkerutnya dahiku, dan juga betapa keringat terus bercucuran mengalir di pipiku, sampai-sampai tanganku tak berhenti bekerja mengelap keringat. Kuteruskan berjalan. Seingatku, selelah apapun kakiku melangkah, sejauh apapun jarak yang harus kutempuh, aku tak pernah tertarik untuk berhenti di tengah jalan mengistirahatkan kaki dan *maaf* bokongku. Entahlah, mungkin aku hanya tidak suka jika aku menunda-nunda melakukan hal yang aku tahu bisa kuselesaikan sendiri, tanpa harus jadi masalah yang berkepanjangan.
Hehehe, tahu apa aku soal masalah, saat itu aku masih SMP. Mungkin spontanitas dan kebiasaan lah yang ada saat itu.
Kuteruskan lagi berjalan kaki, mengayunkan kaki menuju rumah tempat kasurku menunggu. Kulihat ada pos RT 8, menganggur.
"Ah, tanggung. Sebentar lagi juga sampai rumah."
Saat aku berjalan lagi, belum jauh dari pos RT itu, terdengar adzan menandakan sudah masuk waktu sholat Ashar.
"Duh capek banget nih mau buru-buru tidur. Gimana ya?....", bingung, gelisah, lelah, semua campur aduk.
Entah apa yang menyihirku, aku tahu aku memilih untuk pulang dan langsung tidur saja, tapi kakiku membelok. Aku berjalan ke arah masjid. Setelah masuk, langsung kubuka sepatuku dan kusimpan dulu tas ranselku agar tidak basah saat aku berwudhu.
...
Khusyuk, mungkin saat itu sholatku khusyuk. Padahal kasurku telah membisikkan kerinduannya sepanjang perjalanan tadi. Selesai sholat dan berdoa, aku bangkit. Kuambil tas ranselku dan langsung kukemudikan kakiku ke luar masjid. Pulang. Tapi tiba-tiba ada seorang kakek memanggilku.
"Nak... Sini...", ada apa kakek ini memanggilku. Kenapa ia tersenyum?
"Ini buat kamu.", satu lembar uang dua puluh ribu rupiah ia todongkan ke arahku.
Tentu saja aku menolaknya. Ada apa tiba-tiba kakek ini memberiku uang? Tapi senyumannya, dan keyakinan dalam kata-katanya itu menunjukkan bahwa ada yang ia sukai dariku. Yang ia kagumi.
"Mungkin ini hadiah buat kamu. Ini rezeki dari Allah, saya hanya menyampaikan, jangan ditolak."
Habis lah kata-kataku. Dengan terbata-bata, kuucap terima kasih sambil mengangguk. Sebelum bibirku tersenyum lebar, buru-buru aku menyalimi kakek itu.
...
Karena masjid itu tidak terlalu jauh dari rumahku, aku sering sholat berjamaah di sana. Tapi, tak pernah sekalipun aku melihat kakek itu lagi. Sekalipun.
Ini pertama kalinya apa yang kukerjakan menghasilkan uang. Pertama kalinya kakiku menentukan sendiri hendak ke mana ia berjalan. Tapi bukan itu yang penting, ini pertama kalinya aku sangat yakin bahwa Allah memperhatikan hamba-hamba-Nya.
**berdasarkan kejadian nyata
Damn! This is a great one
ReplyDeleteDaebak~!
ReplyDelete