Sebuah Cerpen #FF2in1
"..."
Kesunyian seperti ini selalu disukainya. Itu sih yang dia bilang padaku. Setelah kutanya, tentunya. Mana mau ia bercerita kepadaku? Banyak orang memang suka kesunyian... Kedamaian... Tapi, apa harus sesunyi ini? Angin dan pepohonan pun bersekongkol untuk bungkam.
"Apa tidak seram?"
Pernah sekali kuberanikan untuk bertanya padanya. Gelengan kepala yang kudapat. Anehnya, gelengan kepalanya yang meyakinkan itu ditemani dengan muka yang sedih lagi takut. Matanya pun berkaca-kaca. Walaupun... senyumnya lebih lebar dari pipinya. Seolah sumbang.
Tertiba hujan turun. Mulai deras. Semakin deras. Aku, dan kami semua, segera berlari ke arah sekolah. Meneduhkan kepala kami dari hujan yang tak sanggup melawan gravitasi. Tapi ia tetap diam di bangku taman sekolah. Seakan tak ada tempat lagi baginya. Atau seperti yang sedang menunggu seseorang.
Sebuah mobil parkir tepat di seberang bangku itu. Menyipratkan sedikit air ke arah taman, menandakan mobil itu habis mengebut. Keluarlah seorang wanita yang membawa payung. Belum terlalu tua, namun senyum halusnya itu beralaskan muka yang kusut. Seolah selalu lelah bekerja.
Tanpa kata, tanpa aba-aba, dipeluknya wanita itu. Mereka masuk ke dalam mobil, berjalan beriringan sambil berpelukan. Saat itu memang sudah waktunya pulang.
No comments:
Post a Comment