Monday, October 7, 2013

Gurun Pasir (1)

Aku tahu aku sendiri. Aku tahu bahkan tak ada apa-apa di sini, selain pasir dan pasir. Entah ini perasaanku saja entah memang benar-benar terjadi, tapi rasanya ada matahari tepat di kerongkonganku--panas sekali.

Sepertinya sudah berkali-kali aku ditentang oleh kakiku. Kukatakan padanya, tidak mungkin bisa ia temukan oasis yang dicari-cari orang itu. Tidak mungkin ia bisa menemukannya. Aku yakin betul soal itu, seyakin aku menghitung berapa puluh kali aku sudah mengelap keringat yang menjahili leherku. Tidak mungkin bisa, tapi tetap saja kakiku ini melangkah. Langkah yang sangat berat padahal. Mungkin aku mulai mengerti mengapa gravitasi dalam fisika "disamakan" menjadi 10 meter per (detik pangkat dua).

Pegal rasanya tengkukku harus terus menghadap ke lantai--pasir. (Menyengat pula terik matahari ini). Lebih pegal dari jari-jari kakiku yang terus kugerakkan untuk menyingkirkan butiran pasir yang menyusup masuk. Sulit rasanya kubedakan mana kulit mana pasir.

Langkah demi langkah aku teruskan. Segaris horizon yang berbatasan dengan bumi satu warna--warna pasir--masih meliuk-liuk tanpa jeda, tanpa terputus.

Aku tahu aku sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini.

No comments:

Post a Comment

Search!