Telepon dari ibu mengagetkanku. Aku bangun
dan dengan muka kesal yang coba kuredam, aku mengambil kunci motor dan langsung
menuju tempat ku harus menjemput ibu. Efek dari baru bangun atau bagaimana, aku
tidak tahu kenapa aku terburu-buru sekali. Padahal, di telepon tadi ibu bilang
tak apa kalau 10 menit lagi aku baru berangkat.
Aku sampai. Di kiri jalan kuparkir sepeda
motor tua ini. Di samping kantor polsek. Mesin motor kumatikan. Terdiamlah lama
aku menunggu.
“Heenn….
Hiiiiih…”, seorang pria yang sudah berumur lewat di
depanku sambil mengayuh gerobaknya.
“Heeeeennn…
Hiiiiiiihh…”, gerobak putih usangnya dikayuh dengan
lembut. Berisikan barang-barang bekas yang belum memenuhi gerobak memang, tapi
butuh tenaga untuk membawanya. Ia pun berbelok di pertigaan tempatku menunggu.
Masih bingung aku apa yang diserukannya. Apakah maksudnya seng dan besi?
Beberapa lama kemudian, dua nada dari dua
sepeda motor yang berbeda datang dari arah belakangku. Dapat dipastikan, salah
satu pengendaranya seorang pelajar SMA.
Dari arah berlawanan, berderu pula mesin sepeda motor yang dinaiki oleh, yang
sepertinya, sepasang suami-istri. Mereka berpapasan di satu garis lurus tepat
di ‘pintu masuk’ gang tempat tukang barang bekas tadi berbelok, segaris dengan
sepeda motorku yang sedang menikmati biasan sinar matahari pagi.
![]() |
| Bukan yang ini. Udah lewat hehe |
Tidak lama, entah kelelahan entah sedang
semangat, seorang kakek berbaju lusuh mengayuh sepedanya ke arah barat, arah
belakangku. Sepedanya dihiasi satu karung beras kosong di tiap sisinya, di kiri
dan di kanan, seolah ia pengantar air galonan. Tapi entah karung itu akan diisi
apa.
Berurutan, seorang ibu yang berjalan kaki
menggendong anaknya muncul setelah mobil
Avanza berwarna hitam melaju melewatiku.
![]() |
| Lagi-lagi udah kelewat, bukan yang ini juga hehe |
“Kaas…
Barang… Kas… Barang…”, tukang barang bekas lainnya
lewat.
Beberapa motor pun lewat.
Ibu belum datang juga..
Kayuhan sepeda terlihat lagi dari arah yang
berlawanan dengan seorang pemuda yang berjalan ke arah masjid Asy-Syuhada di
timurku sana.
Sudah lebih dari sepuluh motor
berlalu–lalang di sampingku. Sebuah mobil kijang berwarna biru tua
datang dari arah masjid, berhenti tidak jauh dari tempatku menunggu.
Oh iya, di situ ada tempat memfotokopi.
Segerombolan anak muda, kira-kira kelas 1-2
SMP, berjalan kaki dengan baju santai mereka masing-masing. Kaos oblong dan
semacamnya. Ngobrol ngalor-ngidul
tentang teman, online games, dan
dengan canda-tawa saling ejek. Aku tahu karena obrolan mereka sampai terdengar
olehku saat mereka lewat.
Pasti mau ke warnet,
Warnetnya hanya berjarak 20-30 meter dari
masjid.
Lagi, seorang tukang barang bekas berjalan
di gang ini, kali ini dengan pedal di kakinya, ia menarik gerobaknya sambil
(harus) berjalan kaki. Besi karat, seperti pada pintu-pintu kawat, penuh
ditempeli di tiap sisi gerobak.
Seandainya…
Ini gerobak barang bekas ketiga yang lewat,
dan ini membuatku berpikir. Andai saja mereka mengikuti perkembangan zaman dan
teknologi, mereka tidak harus bekerja seperti ini. Sedang puasa, yang mana
kelihatannya hampir setiap hari mereka jalani, pagi-pagi sudah harus keluar rumah
dan menarik atau mendorong gerobak, mengumpulkan barang-barang bekas untuk
dijadikan uang. Untuk menghidupi keluarganya. Kalau saja mereka memiliki
tanggung jawab dan semangat kerja seperti yang sekarang mereka miliki, namun
memiliki pengetahuan teknologi seperti empat pemuda gamer tadi, mungkin mereka tidak harus capek-capek menarik gerobak
berkeliling kota. Mungkin mereka tidak harus berpanas-panasan dan menghirup
debu. Terlebih lagi, mereka bisa bebas dari harus memasukkan karbon monoksida (dari
asap kendaraan bermotor) ke tubuhnya, sehingga terhindar dari mata yang perih
dan dada yang sesak.
Mungkin sudah setengah jam sejak ibu
menelponku tadi, dan sudah lebih dari 35 sepeda motor berlalu-lalang.
Seandainya aku orang yang pandai lagi kaya…
Kakek berbaju lusuh tadi sudah kembali
lagi, dua karung yang disangkutkan di sepedanya masih kosong. Mukanya tetap
datar, mungkin sudah terlalu lelah untuk berekspresi. Kecepatan kayuhan
sepedanya pun stabil, berarti emosinya tidak labil, atau sudah susah untuk bisa
meluapkan emosi.
Seorang ibu yang sedang menahan panasnya
matahari di pagi itu membawa kedua anak perempuannya yang riang gembira
berjalan kaki bersama. Berjalan dengan jarak agak jauh namun seolah mengikuti
kakek tadi.
Sudah lebih dari 50 pengendara sepeda motor datang
dan pergi, dan sepertiganya mengenakan seragam sekolah.
Kemudian lewat mobil pengantar barang, sepertinya sedang terburu-buru. Mengejar deadline.
Kenapa pula harus lewat gang sini?
Entah sudah berapa lama aku duduk di sepeda motor tua ini menunggu kedatangan ibu. Tapi, sepertinya aku tidak bosan. Keadaan di sekitar sini benar-benar membuatku berpikir, sehingga aku tidak bosan.
Gerobak barang bekas lagi. Berarti sudah yang keempat, ya?
Sudah lebih dari 70 sepeda motor disetir untuk melewati gang ini, dan sebagian besar pengendaranya menggunakan jaket, helm SNI (atau setidaknya yang terlihat seperti memenuhi SNI), dan bahkan ada yang menggunakan masker lagi sarung tangan sebagai pelengkap.
![]() |
| Sepatunya bagus juga. Kelihatannya mahal |
Setelah menunggu agak lebih lama (lagi), lagi-lagi di depanku muncul sebuah gerobak yang ditarik dengan tenaga manusia. Kali ini, gerobaknya lebih besar. Bawaannya pun sedikit berbeda.
Gerobak sampah.
Wajah 'tukang sampah' itu, begitu kita menyebutnya, tidak terlalu ceria, namun cerah. Sepertinya ia menikmati hidupnya, walaupun di mata orang lain-di mata kita-pekerjaan yang harus ia kerjakan itu berat.
Lebih dari 80 pengendara datang dari berbagai arah, dan duapertiganya berbonceng satu atau dua.
Handphone-ku pun berdering. Ibu menelpon. Ia tidak jadi dijemput, ia harus langsung pergi ke tempat lain. Sampai sekitar jam 10 aku menunggu, tidak jadi aku menjemput ibu, tapi aku malah dapat data pengguna jalan di gang ini.
---
Mengerti maksudku, Kawan? Perbandingannya cukup jauh. Di satu pagi itu saja aku melihat ada 5 gerobak, beberapa pejalan kaki, 2-3 sepeda, 4-6 mobil, dan lebih dari 80 sepeda motor melewati gang yang tidak terlalu luas di dekat rumahku. *
Dan seandainya ada orang kaya yang berbaik hati mau 'memperbaiki' kehidupan mereka, atau seandainya semua orang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam hidupnya...
Tidak perlu lagi ada orang yang harus membawa anaknya berpanas-panasan dengan berjalan kaki untuk sampai ke tempat yang jauh.
Tidak perlu lagi ada orang yang harus mengayuh sepedanya mondar-mandir untuk mendapat (hanya) sepeser uang.
Tidak perlu lagi ada mobil yang harus melewati gang yang bukan jalannya, yang beresiko merusak bukan hanya jalan dan kendaraan sekitar, tapi juga mobil itu sendiri.
Tidak perlu lagi ada sepeda motor yang dengan lengang berlalu lalang sementara ada orang yang harus membawa-bawa gerobak untuk dapat bekerja.
... Sepeda motor yang berbonceng (berarti bukan hanya satu kepala yang merupakan 'orang berada')
... Sepeda motor yang pengendaranya berseragam (berarti bisa sekolah, atau keluarganya bisa menyekolahkannya, berarti pengendaranya mendapat pendidikan yang, seharusnya, layak)
... Sepeda motor yang pengendaranya memiliki perlengkapan yang pantas untuk bisa berkendara (berarti ia sempat punya uang?)
Sobat, belajar tidak sulit kan? Malas memang, tapi tidak sulit kan? Berapapun (sisa) umurmu, belajarlah.
Sedekah tidak membuatmu miskin kan? Berkurang memang uangmu, padahal mungkin kau sedang membutuhkannya, tapi memangnya pernah kau mendengar cerita ada orang jatuh miskin karena sedekah? Presiden Amerika Serikat saja ada yang hampir seluruh gajinya disumbangkan langsung untuk rakyat kok, dan ia tidak menjadi miskin.
Mudah memang untuk bicara, tapi untuk berbuat? Itulah tantangannya. Mari berbuat! Untuk sesama, untuk keluarga, untuk diri sendiri!
*tidak semua diceritakan, makanya angka akhirnya lebih banyak dari yang di dalam cerita, kecuali gerobak, jumlahnya tepat.





Hebat ya, bisa mengambil pelajaran dari hal sesederhana itu, tak banyak orang yang dapat melakukannya, Sunguh tak pernah Allah menciptakan sesuatu tanpa maksud dan tujuan! Semua hal dapat dijadikan pelajaran sesederhana apapun itu namun terkadang ketamakan manusia menyepelekannya;
ReplyDelete