Sebuah Cerpen Memoar
Oleh Angel Permata Jauhari @anmaurin
2001
"Ade liat apa?"
"Kak Hilal, itu apa?"
"Itu awan, de. Nana kenapa sih suka liatin langit?"
"Bagus banget."
"Itulah salah satu bukti kebesaran--"
"Allah.."
Juni 2003. Awal Granada resmi menjadi seorang murid TK.
Krayon itu patah lagi. Namun Grana tak berhenti menggunakannya meski mungkin, kalau diukur, krayon itu sama panjangnya dengan kelingking mungil Grana.
"Granada gambar apa? Bu guru boleh lihat?"
Ia berhenti sejenak dalam dunianya yang sibuk mengubah imajinasi menjadi imaji. Ia nampakkan kertas gambarannya kepada sang guru berkerudung putih,
"Gambar langit, Bu Anne."
Sang guru menatap lekat-lekat. Sebuah kertas dengan coretan krayon yang berlatar biru muda, dengan banyak awan di sana. Awan-awan yang bergumpal. Uniknya, tak ada yang berwarna putih. Masing-masing Grana beri warna pelangi. Dan yang membuat sang guru takjub, ada seni gradasi di sana. Bagaimana bisa?
Dan hari itu, terciptalah imaji langit Granada. Gambar pertamanya. Yang kini hilang entah ke mana.
Sekarang. Mideo Juli 2013.
"Kakak di mana? .......Iya, aku ke sana. Assalamu'alaikum!"
Langit kian menjingga. Terlihat dari jendela-jendela di ruangan ini. Ruang pameran lukisan bertemakan 'Langit' ini. Grana menghentikan langkah yang semestinya ia percepat. Semua lukisan yang dipamerkan tiada berhenti memesonakan matanya. Di sana dan di sini, seluruhnya gambar langit. Ia pun terbius, sejenak lupa akan janji bertemu dengan kakak sepupunya.
Sebuah lukisan membuatnya takjub. Hanya langit biru cerah tak berawan. Namun di tengah atasnya ada balon merah bertali. Di tali tersebut, diikatkan sesuatu. Sebuah kertas. Terlukis di sana, tulisan "Aku percaya, kau akan sampai ke angkasa. Man Jadda Wajada."
Ia tersenyum, sesuatu tersirat di sana.
Matanya menjelajah lebih jauh. "Granada..." Seseorang menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti namanya. Grana menoleh. Orang itu tak memanggil/melihat dirinya. Lalu, beliau sedang apa? Grana memerhatikan, mengikuti arah pandangan orang itu. Lebih tepatnya, bapak itu. Dan itu cukup menarik perhatiannya. Sang bapak tengah menatap lekat-lekat sebuah lukisan kecil yang dibingkai. Berbeda dengan lukisan lain, lukisan tersebut jauh lebih kecil. Dan warna biru, tidak menjadi warna dominan di gambar itu.
Grana terkekeh, "Jadi ingat gambar kecilku."
Belum sempat Grana melihat lukisan tersebut lebih dekat, terdengar sahutan seseorang di ujung sana, "NANA!"
Grana menoleh. Semua orang di sana, kecuali si penyahut, menoleh. Dengan inosen, sosok tersebut berjalan mendekat ke arah Grana.
"Kakak cariin. HP-mu ga bunyi?"
Dengan ekspresi lega, pertanyaan langsung dilontarkan pada Grana.
Grana terlihat menahan tawa, "Kak Hilal kayak manggil ojek, tau ga?".
Hilal menyeringai, "Eh, maaf. Kakak tuh panik, kakak kira kamu di mana. Pulang yuk, mau Maghrib."
"Eh, harusnya aku yang minta maaf. Aku tadi keasikan liat lukisan. Bagus-bagus banget. Hayu ah, let's go!", dan mereka berlalu, tak menyadari mereka menjadi pusat perhatian selama 3 menit terakhir.
Bapak itu kembali memandang setelah sejenak menoleh, menyaksikan percakapan dua anak muda tadi. Ia menampakkan ekspresi terkagum dengan apa yang terpampang di hadapannya. Itu, satu-satunya yang bukan lukisan di pameran ini. Sebuah gambar, terlihat jelas dibuat menggunakan krayon. Di bawah gambar awan warna-warni yang membuat Grana terkekeh di kejauhan tadi, sebuah kertas yang dibuat menyerupai buku kecil, tertempel mantap. Baru saja sang bapak membukanya dan membacanya. Itu nama sang pelukis.
Benar saja! "Langit Granada" | Granada Latifah | 5 tahun. []
Ceritanya keren banget (y)
ReplyDeleteSalut sama @anmaurin :)