Wednesday, January 29, 2014

Needs

I need you.
I could trade everything I had to get you, and I need to have you. I do. I really do. I just do.

I could trade my arms. It's fine. I guess I'll be fine not having them.
I could trade my feet. I will be alright. I can crawl if I want to go to some place.

Tuesday, January 28, 2014

Rindu Setengah Mati

Semuanya bisa menjadi manis.
Mulutku bisa mengeluarkan kata-kata yang indah
jika ku-bicara tentang kerinduanku akan bulan,
tentang kerinduanku akan bintang


Saturday, November 16, 2013

B(er)untung

Aku menangis.
Aku terbaring meronta-ronta di lantai
Mengerang tak henti-henti
Persetan dengan keluargaku
Persetan dengan tetanggaku yang terusik dengan tangisanku
Biar saja aku berteriak terus sepanjang hari
Biar saja aku menyesakkan telinga mereka semua, telinga kalian semua
Biarkan aku meronta di lantai
Menyaringkan tangisan yang sudah tidak bisa lagi kutahan
Persetan dengan mereka yang terganggu akan eranganku
Aku tidak punya tangan, kanan maupun kiri
Aku kesal dengan mereka yang tidak mensyukuri kedua tangannya
Aku kesal.

Gurun Pasir (3)

Dia tidak bisa apa-apa lagi. Karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Kalau sudah mendapat kutukan seperti itu, mau bagaimana lagi?

Aku yakin sekarang ia sudah terjatuh tertelungkup di atas pasir, membuat cetakan dirinya di permukaan dunia bagian timur sana. Membuat rahasia dunia yang baru. Bahwa hidup tidak semudah mengangkat kaki dan meletakkannya di depan kaki yang lain. Bahkan mengangkat kaki saja pun sudah sangat sulit bagi beberapa orang. Termasuk juga ia yang sekarang kakinya seberat 100 ton pasir yang menempel di kakinya. Ia sudah jatuh. Aku yakin ia sudah jatuh. Sedih aku mengatakannya. Miris pengakuan ini. Tapi aku yakin.

Dan, tidak akan ada yang membangunkannya. Aku yakin itu. Ia sendiri di sana. Di tengah gurun pasir yang luas itu, ia sendiri. Aku yakin. Ia sendiri. Bahkan tidak ada apa-apa di sana. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya. Tidak ada. Ia sudah mengutuk dirinya sendiri dengan nekad pergi menyusuri jalan yang tidak ada bedanya dengan sebuah bola. Yang mana yang depan, yang mana yang belakang, yang mana kiri, yang mana kanan? Kalaupun ada yang mengetahuinya, ia tidak akan peduli. Ia tidak akan rela mengorbankan dirinya pergi ke tengah ratusan ton pasir hanya untuk membantu seorang gila. Lagipula, memangnya bisa ia menemukannya?

Gila. Begitu aku menyebutnya. Karena ia memang begitu di mataku. Ia sendiri. Tidak tahu arah. Tidak ada yang menunggunya di tempat yang ia tuju. Bahkan yang ia cari pun belum tentu ada.

Dasar gila.

Beruntung (2)

Beruntunglah engkau
Bisa membaca
Bisa mengucap
Bisa mendengar

Membaca apa yang kuucap
Dalam rangkaian huruf yang membentuk kata
Di wadah yang luas ini, wadah seluas dunia. . .
Berterima kasih-lah kepada gurumu

Mengucap apa yang kau baca
Sehingga kau bisa untuk sekian kalinya merasa
Menyadarkan dirimu bahwa kau punya hati. . .
Berbaktilah kepada orang tuamu

Mendengar apa yang kau ucap sendiri
Sampai kau tahu seberapa nyaring suaramu
Seberapa penting keberadaanmu. . .
Bersujudlah kepada Tuhan

Beruntunglah engkau.

Beruntung (1)

Beruntunglah aku
Tidak buta
Tidak bisu
Tidak tuli

Aku bisa mengisi jiwaku dengan indahnya dunia
Dengan jejak kakiku yang menyusuri jalan
Dengan langit di setiap masanya, lukisan Tuhan sepanjang masa
Dengan melihat wajah kedua orang tuaku

Aku bisa menetaskan emas dengan lidahku
Membuat yang mendengarku tersipu malu
Membuat mereka terpatah lidahnya menjadi kaku
Atau membuat mereka mengerti akan duniaku

Aku pun bisa mengalami yang dialami oleh entah siapa
Dari kisah-kisah mengharukan yang kudengar
Dari teriakan dan tangisan para penuntut masa
Dari manis(-pahit)nya cerita penduduk dunia

Beruntunglah aku.

Beruntung

Beruntunglah...
Beruntunglah orang yang buta
Yang bisu
Yang tuli

Mereka tidak perlu berlaku sepertiku
Melihat hal-hal yang merusak jiwa
Yang membuatku menggila
Hanya karena satu-dua hal yang melekat di mata

Mereka bisa menjadi emas dalam diam
Tidak memaki kawan walaupun mau
Tidak mengutuk pengkhianat yang di lidah masyarakat menjadi kutu
Tidak mencipta kata tabu baru

Mereka tidak perlu mendengar ngerinya hidup duniawi
Tidak perlu mendengar jika sudah waktunya saudaranya dieksekusi
Tidak ikut "membicarakan" buruk kata buruk rasa orang lain
Tidak perlu peduli apabila dimaki

Beruntunglah mereka.

Thursday, November 14, 2013

Gurun Pasir (2)

Kuharap kau tidak merasa sendiri. Kuharap kau tahu usahamu tidak akan sia-sia. Setiap langkah kakimu membawamu ke tempat yang baru. Bertemu wajah baru. Mengenal nama baru. Menghirup udara baru. Setiap tarikan nafasmu menghidupi semakin banyak tanaman (karena mereka menyenangi karbon dioksida), yang berarti kau pun dapat menyokong bentuk kehidupan lain selain dirimu. Setiap kedipan matamu memperjelas jalan yang harus kau tempuh. Setiap butir pasir yang mengisi sela jari kakimu mengingatkanmu akan jauhnya jarak yang telah kau tempuh, akan sangat disayangkan-nya apabila kau berhenti, akan derasnya aliran air mataku mengetahui (apabila) kau menyerah.

Kuharap kau tahu. Yang kau cari ada tepat di depan matamu. Kau hanya perlu mengejarnya. Meraihnya.

Kuyakin kau tahu. Ada yang menunggumu di oasis sana.

Ya, kau tahu.
Setidaknya aku tahu itu.
Bahwa kau tidak sendiri.

Thursday, October 10, 2013

Dunia 5 Waktu

Seorang muslim akan mengenal dunia dan lingkungannya, baik lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan tempat kerjanya. Karena ia akan berhenti dari aktivitasnya dan berjalan keluar di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

Seorang muslim akan mengingat bagaimana dinginnya air yang membasahi tangan, muka, dan ubun-ubunnya di pagi dini hari. Ia akan menguatkan diri menahan dinginnya angin subuh. Ia akan rela berjalan seorang diri di waktu itu, yang ketika ia keluar dari rumahnya tidak ada seorang pun yang menyalakan lampu kamarnya (karena masih tidur). Sedikit penerangan yang tersedia di jalan yang memisahkan rumahnya dengan masjid, namun terang cahaya di hatinya, Insya Allah. (juga di kuburnya)

Ia akan mengenal baik apa(-apa saja) yang terjadi di lingkungan sekitarnya ketika tidak ada campur tangan manusia. Juga ketika tidak ada campur tangan sinar matahari. Ia akan melihat bagaimana tumbuhan "tidur"perhatikan, saat manusia bahkan tumbuhan tidur ia pun tetap berangkat ke masjid.

Ia akan menjalankan ajaran dari hadits tentang yang baiknya dikerjakan pertama kali memasuki masjid. Ia akan menghormati masjid dengan menunaikan sholat sunnah 2 rakaat tahiyatul masjid.

Ia akan mengenal baik amalan sholat sunnah yang "tidak boleh" Rasul tinggalkan, yang Rasul selalu lakukan, yang Rasul utamakan. Sholat sunnah qabliyah 2 rakaat di waktu subuhatau biasa disebut sholat fajarakan rajin ia kerjakan. Ia pun akan bertemu dengan muslim nokturnal lainnya. Ia akan merasakan indahnya menjadi pejuang subuh.

**

Seorang muslim akan bersedekah. Ia akan mendapatkan pahala sedekah yang banyak. Ia akan menghargai setiap ruas yang ada di tubuhnya. Setiap rusuknya ia rasakan ikut bernafas bersamanya. Waktu dhuha akan sangat indah bukan hanya di mata dan pikirannya, tapi juga jauh di dalam lubuk hatinya.

Ia akan rindu bersujud di masjid di waktu-waktu ini.

**

Seorang muslim akan tahu ketika ia sedang memperjuangkan yang menjadi harga dirinya, ketika ia memperjuangkan haknya. Ketika matahari sedang bekerja yang sibuk-sibuknya, ia akan beristirahat dari segala hal yang ia kerjakan dan melangkah dalam pahala. Ia akan melangkah di jalan yang lurusdan panas.

Ia akan bisa membandingkan keadaan lingkungan yang dilaluinya di waktu subuh tadi dengan yang sekarang, di waktu yang sangat sibuk ini, di waktu semua sedang asyik-asyiknya bekerja, asyik-asyiknya bermain, atau berdiam diri. Ia akan melihat banyak orang berlalu-lalang ke sana ke mari dengan tujuannya masing-masingyang tidak sama dengannya. Ia akan melihat banyak manusia yang "menganggur dalam sholat".

Matahari terus bekerja, ia pun terus berjalan. Waktunya telah datang. Masjid sudah menunggunya. Allah telah memanggilnya. Adzan menandakannya, membuktikannya.

Tapi seringkali ia sudah berada di dalam masjid sebelum adzan berkumandang. Ia mengisi waktu kosongnya di antara setelah ia datang ke masjid, setelah adzan, sampai iqomah dengan sholat-sholat sunah, doa-doa, dan dzikir untuk mengingat Allah. Ia yakin dan percaya kepada-Nya. Ia berdoa karena ia yakin Allah "pasti" akan segera mengabulkan doanya atau ditunda sampai datang waktu yang tepat, atau diganti-Nya dengan yang lebih baik.

Ia akan dengan mudah berada di saf terdepan saat sholat berjamaah.

**

Seorang muslim akan semakin yakin dirinya seorang muslim ketika ia belajar menyemangati dirinya untuk tetap on the track, tidak berjalan ngelantur tak tentu arah. Ia akan tahu itu waktu yang tepat untuk beristirahat saat matahari mulai berpindah, saat langit tidak lagi seterang pagi maupun siang. Beristirahat yang membuat matanya tidak lagi harus menjadi berkantung-kantung dan berwarna kehitaman. Namun ia memilih untuk...? Pergi ke masjid. Ia akan menerima panggilan Tuhan-satu-satunya-nya.

Petang hari akan sangat menggodanya, namun itu akan memperkuat dirinya. Ia akan tetap berada di saf terdepan saat sholat berjamaah.

**

Matahari terbenam. Akankah semangat seorang muslim ikut tenggelam? Tidak. Ia justru akan dapat menikmati indahnya sunset saat ia berjalan menuju masjid--karena ia berangkat sebelum adzan berkumandang. Puji-pujiannya kepada Allah akan semakin gencar melihat keindahan dunia di sekitarnya, melihat kakinya menggapai langkah demi langkah di jalan yang lurusjalan yang benarjalan-Nya.

Empat rakaat, tiga rakaat, bukan masalah baginya. Ia tetap melakukannya dengan khusyuk.

**

Malam mulai menggenggam dunia. Seorang muslim pun tahu, hari semakin gelap. Antara ia menetap sejak Maghrib, atau ia berangkat lagi dari rumah untuk menikmati pergi-pulang dari rumah ke masjid di bawah sinar rembulanyang terkadang bahkan "tidak bersinar".

Ia bertawakal. Istiqomah. Ia berani menjadi muslim nokturnal.

Sampai di mana ia berjalan? Sampai di saf terdepan.

**

Bangun dari tidurnya, ia melihat waktu menunjukkan pukul 1 malam. Atau mungkin pukul 2 malam. Ia menyegarkan dirinya dengan mengambil air wudhu dan menyehatkan tubuh dan jiwanya dengan melaksanakan sholat tahajud. Sepertiga malam terakhir sangat dinikmatinya. Di waktu ini akan (lebih) sering ia mengadu kepada tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa.

**

Seorang muslim akan teguh hati. Istiqomah. Ia akan melakukan semua ini setiap harinya.
Minimal.

Monday, October 7, 2013

Gurun Pasir (1)

Aku tahu aku sendiri. Aku tahu bahkan tak ada apa-apa di sini, selain pasir dan pasir. Entah ini perasaanku saja entah memang benar-benar terjadi, tapi rasanya ada matahari tepat di kerongkonganku--panas sekali.

Sepertinya sudah berkali-kali aku ditentang oleh kakiku. Kukatakan padanya, tidak mungkin bisa ia temukan oasis yang dicari-cari orang itu. Tidak mungkin ia bisa menemukannya. Aku yakin betul soal itu, seyakin aku menghitung berapa puluh kali aku sudah mengelap keringat yang menjahili leherku. Tidak mungkin bisa, tapi tetap saja kakiku ini melangkah. Langkah yang sangat berat padahal. Mungkin aku mulai mengerti mengapa gravitasi dalam fisika "disamakan" menjadi 10 meter per (detik pangkat dua).

Pegal rasanya tengkukku harus terus menghadap ke lantai--pasir. (Menyengat pula terik matahari ini). Lebih pegal dari jari-jari kakiku yang terus kugerakkan untuk menyingkirkan butiran pasir yang menyusup masuk. Sulit rasanya kubedakan mana kulit mana pasir.

Langkah demi langkah aku teruskan. Segaris horizon yang berbatasan dengan bumi satu warna--warna pasir--masih meliuk-liuk tanpa jeda, tanpa terputus.

Aku tahu aku sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini.

Tuesday, September 24, 2013

Gurun Pasir

Mari kita bermain visualisasi.

Bayangkan kau ada di gurun pasir yang sangat luas. Saaaaaangaaaaat luas.

Lego House

I stopped walking when I suddenly see you across the street. What can possibly a person like you doing here in the streets, at a time like this, walking alone, carrying nothing?

Search!