Thursday, October 10, 2013

Dunia 5 Waktu

Seorang muslim akan mengenal dunia dan lingkungannya, baik lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan tempat kerjanya. Karena ia akan berhenti dari aktivitasnya dan berjalan keluar di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

Seorang muslim akan mengingat bagaimana dinginnya air yang membasahi tangan, muka, dan ubun-ubunnya di pagi dini hari. Ia akan menguatkan diri menahan dinginnya angin subuh. Ia akan rela berjalan seorang diri di waktu itu, yang ketika ia keluar dari rumahnya tidak ada seorang pun yang menyalakan lampu kamarnya (karena masih tidur). Sedikit penerangan yang tersedia di jalan yang memisahkan rumahnya dengan masjid, namun terang cahaya di hatinya, Insya Allah. (juga di kuburnya)

Ia akan mengenal baik apa(-apa saja) yang terjadi di lingkungan sekitarnya ketika tidak ada campur tangan manusia. Juga ketika tidak ada campur tangan sinar matahari. Ia akan melihat bagaimana tumbuhan "tidur"perhatikan, saat manusia bahkan tumbuhan tidur ia pun tetap berangkat ke masjid.

Ia akan menjalankan ajaran dari hadits tentang yang baiknya dikerjakan pertama kali memasuki masjid. Ia akan menghormati masjid dengan menunaikan sholat sunnah 2 rakaat tahiyatul masjid.

Ia akan mengenal baik amalan sholat sunnah yang "tidak boleh" Rasul tinggalkan, yang Rasul selalu lakukan, yang Rasul utamakan. Sholat sunnah qabliyah 2 rakaat di waktu subuhatau biasa disebut sholat fajarakan rajin ia kerjakan. Ia pun akan bertemu dengan muslim nokturnal lainnya. Ia akan merasakan indahnya menjadi pejuang subuh.

**

Seorang muslim akan bersedekah. Ia akan mendapatkan pahala sedekah yang banyak. Ia akan menghargai setiap ruas yang ada di tubuhnya. Setiap rusuknya ia rasakan ikut bernafas bersamanya. Waktu dhuha akan sangat indah bukan hanya di mata dan pikirannya, tapi juga jauh di dalam lubuk hatinya.

Ia akan rindu bersujud di masjid di waktu-waktu ini.

**

Seorang muslim akan tahu ketika ia sedang memperjuangkan yang menjadi harga dirinya, ketika ia memperjuangkan haknya. Ketika matahari sedang bekerja yang sibuk-sibuknya, ia akan beristirahat dari segala hal yang ia kerjakan dan melangkah dalam pahala. Ia akan melangkah di jalan yang lurusdan panas.

Ia akan bisa membandingkan keadaan lingkungan yang dilaluinya di waktu subuh tadi dengan yang sekarang, di waktu yang sangat sibuk ini, di waktu semua sedang asyik-asyiknya bekerja, asyik-asyiknya bermain, atau berdiam diri. Ia akan melihat banyak orang berlalu-lalang ke sana ke mari dengan tujuannya masing-masingyang tidak sama dengannya. Ia akan melihat banyak manusia yang "menganggur dalam sholat".

Matahari terus bekerja, ia pun terus berjalan. Waktunya telah datang. Masjid sudah menunggunya. Allah telah memanggilnya. Adzan menandakannya, membuktikannya.

Tapi seringkali ia sudah berada di dalam masjid sebelum adzan berkumandang. Ia mengisi waktu kosongnya di antara setelah ia datang ke masjid, setelah adzan, sampai iqomah dengan sholat-sholat sunah, doa-doa, dan dzikir untuk mengingat Allah. Ia yakin dan percaya kepada-Nya. Ia berdoa karena ia yakin Allah "pasti" akan segera mengabulkan doanya atau ditunda sampai datang waktu yang tepat, atau diganti-Nya dengan yang lebih baik.

Ia akan dengan mudah berada di saf terdepan saat sholat berjamaah.

**

Seorang muslim akan semakin yakin dirinya seorang muslim ketika ia belajar menyemangati dirinya untuk tetap on the track, tidak berjalan ngelantur tak tentu arah. Ia akan tahu itu waktu yang tepat untuk beristirahat saat matahari mulai berpindah, saat langit tidak lagi seterang pagi maupun siang. Beristirahat yang membuat matanya tidak lagi harus menjadi berkantung-kantung dan berwarna kehitaman. Namun ia memilih untuk...? Pergi ke masjid. Ia akan menerima panggilan Tuhan-satu-satunya-nya.

Petang hari akan sangat menggodanya, namun itu akan memperkuat dirinya. Ia akan tetap berada di saf terdepan saat sholat berjamaah.

**

Matahari terbenam. Akankah semangat seorang muslim ikut tenggelam? Tidak. Ia justru akan dapat menikmati indahnya sunset saat ia berjalan menuju masjid--karena ia berangkat sebelum adzan berkumandang. Puji-pujiannya kepada Allah akan semakin gencar melihat keindahan dunia di sekitarnya, melihat kakinya menggapai langkah demi langkah di jalan yang lurusjalan yang benarjalan-Nya.

Empat rakaat, tiga rakaat, bukan masalah baginya. Ia tetap melakukannya dengan khusyuk.

**

Malam mulai menggenggam dunia. Seorang muslim pun tahu, hari semakin gelap. Antara ia menetap sejak Maghrib, atau ia berangkat lagi dari rumah untuk menikmati pergi-pulang dari rumah ke masjid di bawah sinar rembulanyang terkadang bahkan "tidak bersinar".

Ia bertawakal. Istiqomah. Ia berani menjadi muslim nokturnal.

Sampai di mana ia berjalan? Sampai di saf terdepan.

**

Bangun dari tidurnya, ia melihat waktu menunjukkan pukul 1 malam. Atau mungkin pukul 2 malam. Ia menyegarkan dirinya dengan mengambil air wudhu dan menyehatkan tubuh dan jiwanya dengan melaksanakan sholat tahajud. Sepertiga malam terakhir sangat dinikmatinya. Di waktu ini akan (lebih) sering ia mengadu kepada tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa.

**

Seorang muslim akan teguh hati. Istiqomah. Ia akan melakukan semua ini setiap harinya.
Minimal.

Monday, October 7, 2013

Gurun Pasir (1)

Aku tahu aku sendiri. Aku tahu bahkan tak ada apa-apa di sini, selain pasir dan pasir. Entah ini perasaanku saja entah memang benar-benar terjadi, tapi rasanya ada matahari tepat di kerongkonganku--panas sekali.

Sepertinya sudah berkali-kali aku ditentang oleh kakiku. Kukatakan padanya, tidak mungkin bisa ia temukan oasis yang dicari-cari orang itu. Tidak mungkin ia bisa menemukannya. Aku yakin betul soal itu, seyakin aku menghitung berapa puluh kali aku sudah mengelap keringat yang menjahili leherku. Tidak mungkin bisa, tapi tetap saja kakiku ini melangkah. Langkah yang sangat berat padahal. Mungkin aku mulai mengerti mengapa gravitasi dalam fisika "disamakan" menjadi 10 meter per (detik pangkat dua).

Pegal rasanya tengkukku harus terus menghadap ke lantai--pasir. (Menyengat pula terik matahari ini). Lebih pegal dari jari-jari kakiku yang terus kugerakkan untuk menyingkirkan butiran pasir yang menyusup masuk. Sulit rasanya kubedakan mana kulit mana pasir.

Langkah demi langkah aku teruskan. Segaris horizon yang berbatasan dengan bumi satu warna--warna pasir--masih meliuk-liuk tanpa jeda, tanpa terputus.

Aku tahu aku sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini.

Search!