![]() |
| *klik untuk info lebih lengkap |
Alhamdulillaah, karena
saya adalah seorang pelajar tingkat SMA (di Indonesia tentunya, menyesal lah
saya kalau sekarang sekolah di luar, gak bisa ikutan lomba ini dong hehee) dan
memiliki blog pribadi, maka saya memenuhi syarat untuk dapat mengikuti lomba
“Sekolah Dambaanku Blog Competition”. Ada hal lain yang mengusik saya untuk
mengikuti lomba ini, yaitu keberadaan saya di bangku sekolah dan keadaan
sekolah-sekolah di Indonesia, terutama di daerah Bekasi, karena jujur, ya
memang seperti itu adanya, saya belum pernah bersekolah di daerah selain
Bekasi. Dari TK hingga kini SMA, saya selalu berkutat dengan bangku, meja, dan
papan tulis dengan sidik jari orang Bekasi, lengkap dengan tembok-tembok penuh
‘lukisan’ anak-anak Kota Patriot ini.
Ngomong-ngomong soal TK, sepertinya agak jarang saya temui
orang yang menarikan kuas atau pulpennya di atas kertas (atau mungkin sekarang
lebih tepat: menarikan jari-jarinya di atas keyboard)
membahas tentang masa kanak-kanaknya. Faktor terbesarnya mungkin karena sudah
jauh terlewatinya waktu, sehingga aktivitas, imajinasi, dan 'mainan-mainan' saat itu sudah mulai hangus dari memori ketika orang beranjak dewasa. Saya yang baru duduk di bangku SMA saja sudah mulai lupa dengan apa saja yang saya lakukan saat TK dulu. Namun satu yang saya yakin, sekolah saat saya TK dulu: sangatlah menyenangkan.
Kita dapat bertemu dengan teman-teman baru, menambah kenalan, menambah pengalaman, menambah mainan, menambah permainan, bahkan TK dapat menambah wawasan anak dengan cukup baik. Bintang-bintang iklan di TV saja makin hari makin banyak yang masih kecil, yang belum menginjak aneh dan serunya aura ruang kelas, kantin, dan lapangan Sekolah Dasar. Mereka belum tahu banyak tentang dunia ini, tapi sudah bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya cukup sulit dilakukan, dan mereka melakukannya dengan senang hati. Sama dengan saya waktu TK, dulu saya memang belum kenal, bertemu tatap muka, bahkan salaman dengan dunia ini. Namun kehidupan saat itu terasa sangat menyenangkan. Semua seakan mudah dijalani dan layaknya mainan baru, ...
"Aku akan menaklukkannya, aku bisa menguasai mainan ini. Akan kucoba segala cara untuk mempelajari mainan ini. Haruskah kupegang erat-erat, kuayun-ayun, kubanting-banting, kulempar, kugigit, atau kutelan dulu agar aku mengerti? Entahlah, kucoba saja semua."
- GURU
Sepertinya dulu memang saya sangat senang bermain, dan tak peduli akan menciptakan polusi lingkungan atau kerusakan permanen pada tubuh ataupun objek studi 'bermain' saya waktu itu, saya menjadi sangat berani untuk berpetualang dengan apa saja yang ada di sekitar saya. Dan, saat itu, orang tua ataupun guru di dekat saya tidak dengan keras melarang saya bereksperimen. Mereka justru mengajarkan dengan baik kepada saya apa yang sebaiknya saya lakukan dan tidak lakukan. Mereka menunjukkan bagaimana 'sebaiknya' saya berdiri, bagaimana 'sebaiknya' saya melangkah, bagaimana 'sebaiknya' saya bermain, bukan 'seharusnya' saya bersikap. Saya diajarkan sopan dan santun dengan baik oleh orang tua saya, bukan dengan paksaan ataupun ancaman, namun dengan mereka menjadi teladan yang baik bagi saya sehingga saya mencontoh apa yang mereka lakukan dan saya pun mulai memasuki Play Stage, yang dalam sosiologi yaitu semakin sempurnanya saya menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitar saya.
Alhamdulillaah, guru-guru saya di TK bahkan di SD pun begitu. Mereka menunjukkan mana yang baik dan perbandingan halusnya mengenai apa yang bukan.
"Bukankah memang seperti itu seharusnya seorang anak diperlakukan?"
Lalu mengapa, setelah sang anak memasuki jenjang pendidikan tingkat SMP atau SMA, setelah sang anak dianggap sudah mengenal apa yang baik dan buruk walaupun masih memiliki kecenderungan untuk melakukan hal 'menyimpang' dari aturan, setelah sang anak menambahkan kosakata di otaknya, guru-guru yang dikatakan sebagai orang tua murid di sekolah itu malah mengurangi potensi keteladanannya? Bukan bermaksud mencela para guru, namun saya melihat bahwa sepertinya faktor "dia kan sudah besar" punya dampak yang cukup negatif secara langsung bagi guru, dan secara tidak langsung bagi murid.
Secara langsung, para guru (sempat) punya pemikiran seperti itu sehingga guru teladan dalam dirinya mulai longgar. Sehingga, mereka menoleransi para murid melihat hal-hal yang seharusnya tidak dilihat. (e.g. merokok di lingkungan sekolah, di dalam maupun di luar sekolah; *hanya* memberi tugas dan pergi meninggalkan kelas tanpa menerangkannya terlebih dahulu kepada murid).
Secara langsung, para murid yang masih lebih memilih bersenang-senang daripada belajar dengan tekanan untuk serius tentunya akan senang dengan ketiadaan guru di kelas. Saya pun pernah mengalaminya. Waktu di mana guru berhalangan hadir di kelas saat Kegiatan Belajar Mengajar seringkali, dan dengan senang hati, dimanfaatkan oleh para murid untuk bersenang-senang, bermain, bahkan bisa jadi murid-murid itu keluar kelas dengan lengang. Mereka menikmati saat-saat seperti itu dan merasa mendapat suatu kenikmatan tersendiri, namun secara tidak langsung, mereka kehilangan waktu yang berharga untuk belajar. Waktu yang telah disiapkan, disediakan, direlakan, dikorbankan untuk pergi ke sekolah dan belajar, untuk menuntut ilmu, untuk memperluas wawasan mereka.
Kasus-kasus seperti ini, saya rasa, masih sering terjadi di sekolah-sekolah utamanya di tingkat SMP dan SMA. Mungkin akan lebih banyak ada di tingkat SMA, karena jelas bahwa murid-muridnya lebih besar dari murid sekolah lainnya, sehingga anggapan bahwa murid dapat belajar sendiri pun tertanam semakin dalam di pikiran para pengajar. Para guru cenderung lebih banyak memberikan tugas dibanding memberikan pengajaran materi di kelas. Kalaupun ada pengajaran materi, kini bukan lah guru lagi yang memberikan materi. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada guru yang menyiapkan sedikit materi untuk para murid, layaknya rangkuman materi, kemudian ia menugaskan para murid (berkelompok) untuk menyiapkan bahan presentasi materi sesuai bab masing-masing, menyelesaikan materi yang telah ia 'rangkum' sebelumnya. Walaupun ini suatu cara yang bagus dalam meningkatkan kekompakan kelompok, mutu kerja, pemahaman materi dari sudut pandang berbeda, dan sebagainya, namun hal ini juga memberikan kesan terbebani kepada murid. Tak apalah kalau hanya 1-2 bab yang murid bahas, namun hampir keseluruhan materi dibahas oleh murid itu sendiri sehingga mereka merasa tugas yang seharusnya dilakukan oleh guru malah dilimpahkan kepada murid. Bagus. Ini benar-benar bagus, saya sangat setuju dengan metode pengajaran seperti ini.... apabila diterapkan dalam batas atau porsi yang wajar. Kalau lah semua tugas diberikan kepada murid, berperan sebagai apa kah guru-guru di kelas? Penyampai tugas? (mohon maaf)
Mungkin guru teladan bagi saya adalah guru yang benar-benar dapat dijadikan contoh dalam kehidupan dari segi apapun. Yang ramah terhadap sesama guru, sesama staff, dan semua murid. Yang mau mengorbankan waktunya untuk mengajar anak-anaknya yang haus akan ilmu, ataupun yang belum sadar bahwa dirinya haus akan ilmu (murid-murid yang masih 'nakal'), melawan semua rasa kantuk, lelah dan malas. Yang mempunyai variasi inovasi, cara mengajarnya asyik sehingga membuat setiap murid yang diajarnya (kembali) semangat untuk belajar, ataupun yang cara mengajarnya simply baik dan benar.
- TUGAS DAN PEKERJAAN RUMAH
Soal tugas yang diberikan oleh guru, saya jadi ingat perkataan guru matematika saya di kelas 8 SMP dulu. Katanya, di suatu sekolah di luar negeri sana, batas jumlah waktu pengerjaan pekerjaan rumah yang boleh ditugaskan kepada murid hanyalah 2 jam. Apabila sekiranya murid sudah mendapatkan tugas yang membutuhkan waktu 2 jam untuk menyelesaikannya, maka guru lain sudah tidak bisa lagi memberikan pekerjaan rumah kepada murid tersebut.
Sangat berbeda dengan keadaan saya sekarang, setiap hari di sekolah saya ada 4-5 mata pelajaran. Katakanlah hanya 1 pelajaran yang tidak memberikan pekerjaan rumah, maka berarti tugas-tugas saya ada 1-3 pelajaran dikalikan dengan 3 hari sesuai jadwal sekolah (bukan 5 hari karena tidak mutlak setiap pelajaran setiap harinya ada tugas, saya mengambil perkiraan 'terparah' yang minimum saja), berarti kurang-lebih saya harus mengerjakan 3-9 tugas setiap minggunya? Belum lagi dilihat dari jenis tugasnya; ada yang mengharuskan saya membuat presentasi dengan powerpoint, mengerjakan soal-soal 1 bab penuh tanpa diterangkan mengenai materi terkait soalnya, membuat makalah berpuluh-puluh lembar (untuk siapa makalah ini dibaca? Akankah ada murid ataupun guru yang menyempatkan diri membaca berpuluh-puluh lembar makalah? Itupun baru satu makalah, belum dikalikan dengan banyak pembuatnya. Bersyukurlah murid pembuat makalah itu kalau ada orang lain yang merasakan manfaat dari makalah buatannya, itu akan menjadi ilmu yang dapat dimanfaatkan yang InsyaAllah termasuk ke dalam "Tiga Perkara Amal yang Tidak Akan Putus". Kalau tidak?)
Sampai sekarang, hal ini masih menjadi bahan bakar kerja otak saya. Alangkah indahnya bagi saya sebagai pelajar, jika saya dapat belajar dengan fokus menerima materi dari guru teladan dan bebas memilih apa yang akan saya pelajari di rumah, di waktu senggang, atau di mana saja karena tidak adanya beban tugas yang berat dan menumpuk.
Bagaimanapun juga, dalam QS Adh-Dhuha/93:11 tercatat bahwa kita tetap harus bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan."
Maka muncullah pertanyaan sebagai tantangan: Seberapa baik kita dapat menangani dan menyelesaikan tugas-tugas yang berat dan banyak itu?
- MATA PELAJARAN
Berbicara tentang tugas dan pekerjaan rumah, berbicara juga tentang mata pelajaran.
Setelah saya melakukan 'survei' ke beberapa web di internet, saya menemukan dari cerita pengalaman anak-anak bangsa yang berhasil mengenyam pendidikan di luar negeri sana (e.g. Amerika), bahwa bahan ajar atau mata pelajaran sekolah tingkat SMA di sana jauh lebih sedikit dibandingkan yang kita punya di Indonesia. Di Indonesia, sekolah negeri mewajibkan murid untuk mempelajari kurang-lebih 16 mata pelajaran dan 'berharap' mereka dapat menguasai semua itu dengan baik, hanya dalam waktu satu tahun ajaran.
Setiap guru menginginkan muridnya dapat menerima dengan baik apa yang telah diajarkannya, tiap-tiap dari mereka menginginkan ada murid yang ahli di bidang yang sama dengan mereka. Guru matematika ingin semua muridnya pintar matematika, guru kimia ingin muridnya pintar kimia, guru ekonomi ingin muridnya pintar ekonomi, guru bahasa ingin muridnya pintar berbahasa, dan seterusnya.
Dan, tidak jarang ada guru yang menggunakan berbagai cara agar muridnya itu tidak lepas dari mata pelajaran yang diajarnya. Ada yang membuat murid mengerjakan soal berlembar-lembar, ada yang menugaskan murid membuat bahan presentasi, dan sebagainya. Sekali lagi, saya pikir ini sangat baik apabila diterapkan dalam batas ajar yang wajar. Namun untuk menguasai semua mata pelajaran, rasanya sulit apalagi jika ditambah dengan adanya tugas-tugas yang menumpuk.
Jujur, sebenarnya saya belum menemukan usulan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah melimpahnya mata pelajaran yang wajib dikuasai oleh setiap murid hampir di seluruh Indonesia. Apakah perlu diadakan penjurusan sejak dini? Tapi sejak kapan? Kalau lah diadakan penjurusan sejak pertama kali seseorang duduk di bangku SMA, berarti murid SMA kelas X (kelas sepuluh) sudah langsung terbagi menjadi dua, tiga atau lebih jurusan (e.g. jurusan IPA, IPS, Bahasa). Ini akan menjadi hal yang baik apabila murid sudah yakin dan mantap di jurusan yang dipilihnya. Nah, kalau belum? Ia tidak akan tahu apakah ia akan lebih berprestasi di jurusan IPA, IPS, ataupun Bahasa apabila ia tidak pernah benar-benar mencoba mempelajarinya secara resmi dalam sistem KBM di sekolah.
Sebaliknya, kalau seperti yang saya alami sekarang, dengan tulus hati saya katakan bahwa saya cukup keteteran mengejar semua mata pelajaran di kelas X ini. Saya bukan lah orang yang 'pintar', jadi saya harus berusaha lebih untuk dapat setara dengan beberapa teman saya yang memang terlahir dan terdidik untuk menjadi 'pintar'. Maka saya membutuhkan tenaga, usaha dan waktu ekstra untuk dapat melebihi mereka. Dan, kalau mau cari-cari alasan; tugas dan pekerjaan rumah yang menumpuk dikalikan dengan banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus saya tekuni itu dapat menjadi tembok besar yang sulit saya tembus.
- FASILITAS DAN LINGKUNGAN SEKOLAH
Menurut saya, hukum Markovnikov yang diajarkan oleh guru saya terjadi dalam hal ini. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Banyak sekolah yang sudah cukup baik fasilitasnya, lalu terus ditambah dan ditambah lagi kelengkapannya. Semakin canggih, semakin modern, semakin ter-globalisasi. Sementara sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang belum memiliki fasilitas yang memadai untuk dapat terciptanya KBM yang kondusif, semakin hari semakin sulit untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin karena inflasi dan segala macam hal yang terkait peningkatan harga ekonomis bahan-bahan pokok manusia. Namun bukannya saya mengatakan sekolah-sekolah ini salah, mereka (yang telah mengerahkan keringat hanya untuk) membangun sekolah ini patut dihargai. Mereka memperjuangkan hak manusia di penjuru-penjuru dunia untuk memperkaya ilmunya.
Terkadang, kita tahu dan memilih untuk lupa. Ya, terkadang manusia lah yang memilih untuk lupa. Saya rasa, fasilitas dan lingkungan sekolah saya sudah sangat bagus. Karena yang sebenarnya diperlukan demi berlangsungnya KBM hanyalah guru, murid, dan tempat yang nyaman agar proses KBM pun berlangsung kondusif. Dan, sekolah saya sudah cukup memadai untuk memenuhi 'persyaratan ruang kelas' itu. Namun terkadang saya menjadi lupa untuk bersyukur. Saya sudah dapat bersekolah di sekolah dengan ruang kelas yang terfasilitasi, ada kursi dan meja yang cukup baik untuk belajar, ada papan tulis dan bahkan ada proyektor untuk mempermudah dan memper-asyik KBM dengan visualisasi yang beragam untuk murid. Lingkungan sekolah saya pun, menurut saya pribadi, terbilang sangat baik. Luas, baik lapangan maupun sekolah itu sendiri, cukup rindang karena terdapat banyak pepohonan yang bahkan dipasangkan nama latinnya agar murid bisa sambil iseng-iseng mempelajari nama latin tumbuh-tumbuhan yang ada di kesehariannya, di bawah pohon-pohon rindang itu pun dijadikan tempat berkumpul, belajar, dan berdiskusi sehingga kami para murid sering menyebutnya "DPR" atau singkatan dari "Di bawah Pohon Rindang".
Bukannya membanggakan, pamer, atau bagaimana, saya hanya memaparkan satu contoh sekolah yang sebenarnya sudah sangat baik untuk menjadi faktor peningkat prestasi siswa. Tinggal bagaimana warga sekolah itu, baik guru maupun murid, memanfaatkan apa yang sudah tersedia untuk menciptakan chemistry yang luar biasa antara lingkungan yang baik, ilmu yang bermanfaat, guru teladan, dan murid yang antusias dalam belajar.
- HARAPAN UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA KE DEPAN
Keberhasilan membutuhkan perjuangan.
Perjuangan membutuhkan kesabaran.
Kesabaran membutuhkan kesungguhan.
---
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pun membutuhkan kesungguhan.
Mungkin ini cukup abstrak karena menyangkut masalah apa yang ada di tiap-tiap manusia, bukannya apa yang semua benda hidup ataupun mati miliki, bukan hal konkrit. Tapi saya yakin dari kesungguhan itu, apabila setiap unsur kehidupan didik-mendidik itu mau bersungguh-sungguh,
(pemerintah yang mendukung segala kegiatan positif siswa dan guru, sekolah yang menyiapkan fasilitas dan lingkungan yang baik dan sehat demi lancarnya KBM, guru teladan yang tidak lupa akan misi mulianya, murid yang sungguh-sungguh dan haus akan ilmu)
bila itu semua terpenuhi, saya yakin pendidikan Indonesia akan menjadi salah satu panutan bagi majunya peradaban dunia.
"Ilmu adalah penyebab dan akibat dari semua yang sedang terjadi sekarang, di bagian dunia mana pun." - anonim
"Bangsa ini bisa jadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak pernah percaya."
- BJ Habibie, sambil menangis


izin nyimak kaks :v
ReplyDelete